Puasa Sosmed di Bulan Suci

330

Sosmed layaknya lahan luas tempat menyalurkan ekspresi. Ekspresi anak bayi hingga kakek nenek lanjut usia ada di sana.

Sosmed adalah hunian baru umat manusia di abad ini, tanpa sosmed seakan manusia diserang virus gelisah.

Hadirnya sosmed dalam kehidupan manusia mendapat sambutan hangat sekaligus benci.
Ia disambut oleh mereka yang suka pamer, dibenci oleh mereka yang menyantap sajian tak bermanfaat darinya.

Dalam perspektif logika tentu sosmed tak bisa kita salahkan, ia hanya seperangkat alat yang tak berdaya atas dirinya sendiri, manusialah yang membuatnya berfungsi. Baik buruknya sosmed merupakan jelmaan dari watak penggunanya.

Di ruang Facebook misalnya, sehari tak libur dari ragam postingan yang memasarkan tubuh wanita hingga ujaran kebencian. Dari sosmed tergambar bahwa masyarkat kita belum bijak dalam memanfaatkan teknologi. Dan, itu representasi dari watak buruk pengguna.

Bercampur tidak keruan ragam postingan, inilah yang menyeret kita untuk menyantap kebaikan sekaligus keburukan. Untuk menjaga kelancaran ibadah di bulan ramadan ini, baik tentunya kita berpuasa sosmed.

Puasa sosmed bukan berarti kita tak menggunakannya untuk berkomonikasi antar sesama, tapi menggunakannya seperlu saja. Ini dapat membantu mata agar tetap terjaga dari menatap sajian negatif, membantu pikiran terhindar dari kalimat-kalimat yang dapat memancing emosi.

Warga sosmed tak hanya mereka yang berpendidikan. Seluruh masyarakat dengan latar belekang agama, suku, budaya hingga kepentingan yang berbeda bisa kita jumpai di sana. Inilah yang dapat memproduksi ragam kebencian, adu mulut, adu otot, hingga saling lapor-melapor.

Demi menjaga ibadah di bulan ramadan ini agar tidak dicemari dengan keramaian isu-isu negatif dan peredaran hoax, puasa sosmed adalah salah satu langkah pencegahan untuk tidak terpapar berbagai pameran negatif.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menginformasikan tiga tingkatan puasa kepada kita yaitu: puasa umum, puasa khusus dan puasa khushushul khushush ( paling khusus diantara yang khususu).

Puasa umum adalah menahan perut dan kemaluan dari melampiaskan syahwat. Puasa khusus adalah menjaga pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh yang lain dari berbagai perbuatan dosa. Sedangkan puasa paling khusus adalah menahan hati dari hasrat dan pikiran duniawi serta total mencegah hati dari segala sesuatu selain Allah.

Secara tersirat, Imam Al-Ghzali mengajarkan kita agar berhati-hati dalam menjalankan ibadah puasa, pikiran yang bereaksi terhadap sesuatu secara berlibahan pun dapat mencemari kualitas ibadah puasa.

Potensi untuk mencapai tiga tingkatan puasa yang disebutkan Al-Ghazali akan menjadi tantangan yang begitu besar di era teknologi ini. Sosmed yang menyajikan isu SARA dan mempertontonkan lekuk tubuh wanita membuat pikiran berpotensi terganggu, dan kita akan memandang dengan syahwat.

Pandangan dengan syahwat dapat membatalkan ibadah puasa, sebagaimana Rasulullah saw, bersabda yang artinya: ” Ada lima hal yang dapat membatalkan ibadah orang yang berpuasa yaitu, berbohong, membicarakan orang lain, mengadu domba, sumpah palsu dan melihat dengan syahwat.

Ramdan tak datang setiap saat, satu tahun hanya sekali, lalu pergi tanpa permisi. Rugi bila kedatangannya kita kotori dengan berbagai reaksi negatif terhadap berbagai isu yang tersebar di medsos akibat tak mampu menahan diri untuk menikmati segala sajian di dalamnya.

Perlu sadari bahwa ramadan adalah bulan pelatihan pengendalian diri. Melawan diri sendiri adalah perlawanan yang paling besar, bahkan melampaui perang badar. Karena itulah butuh waktu satu bulan penuh untuk berlatih. Bila godaan sosmed dengan berbagai rupa gambar maupun aneka kalimat yang di sodorkan mampu menodai kita di bulan pelatihan ini, maka kita akan keluar sebagai pecandu.

Tak hanya Narkotika yang mempunyai efek kecanduan, sosmed pun dapat membuat candu. Kecanduan inilah yang membuat seseorang selalu mengecek sosmednya dalam 30 menit atau kurang.

Kecanduan sosmed dapat menggiring pengguna untuk senantiasa membandingkan dirinya dengan orang lain, dari sinilah kecemasan bahkan stres mudah menghampirinya. Dan, tentunya burukĀ  bagi mereka yang sedang menjalankan ibadah di bulan ramadan.

Mutakhir ini, tak sedikit data yang menunjukan prilaku negatif atau perbuatan tak beretika bermula dari sosmed. Di sana ada anak remaja hingga ibu-ibu berjoget dengan busana transparan, ada adu domba, ada saling caci, bahkan saling menghina Tuhan yang di yakini suatu agama.

Kebisaan berlebih menikmati sajian medsos di bulan ramadan membuat kita buta untuk membedakan mana yang patut di konsumsi dan mana yang harus kita hindari, akhirnya batalnya amalan puasa tak mampu kita rasakan, dan itulah seburuk-buruknya orang yang melaksanakan puasa di bulan ramadan, ia hanya mendapatkan lapar dan haus. Oleh karena itu, puasa medsos adalah salah satu jalan yang mampu menghantarkan kita untuk mengurangi perbuatan-perbutan negatif di bulan suci ini.

Penulis: Ikbal Tehuayo