Pudarnya Pesona Lingkungan

276

Selain Zoon Politicon, manusi adalah  makhluk ekologi yang hidup dalam ikatan konstitusi alamiah ( hukum alam ) sebab itu kesadaran akan melestarikan lingkungan hidup harus tertanam kuat dan menjadi tujuan yang harus di pertahankan tanpa kompromi dengan kepentingan sesaat yang menggoda untuk menjajah lingkungan.

Pengurasan lingkungan adalah penindasan bagi tiap-tiap makhluk hidup, baik hewan maupun tumbuh-tumbuhan.

Bila kembali menjelajahi kisah Nabi Nuh Alaihissalam, saat diperintahkan Tuhan untuk membuat kapal karena badai dan banjir akan segera datang, ia mengajak semua binatang dan pasangannya agar naik bersamanya supaya mendapatkan keselamatan.

Dari panggalan sejarah Nabi Nuh a.s. tersimpan pelajaran yang begitu sarat akan makna, salah satunya adalah, keselamatan harus di berikan juga kepada binatang, sebab mereka punya hak untuk hidup dan meneruskan generasinya.

Dani Noveh, seorang antropolog yang mengunjungi suku nayaka di selatan India, perna melaporkan bahwa, ketika seseorang dari suku nayaka menemui ular maupun Harimau di tengah hutan, ia berkata, aku datang kesini, kau pun datang kesini, aku mencari makan disini, kau pun mencari makan disini, aku datang ke sini bukan untuk melukaimu ( Homo Deus ).

Bisa kita bayangkan, dari suku yang hidup tanpa tersentuh dengan perkembangan pengetahuan tentang ekologi dan lingkungan hidup, ia mampu untuk hidup damai dalam lingkungan yang sama, tanpa menyakiti satu dengan yang lain.

Suda seharusnya kita bertanya pada diri sendiri. Apakah kita tidak menyakiti ratusan binatang yang hidup di hutan sana?  Pertanyaan ini merupakan sindiran keras pada prilaku kita terhadap lingkungan.

Santiago, bocah kecil sang pengembala, dikisahkan dalam novel The Alchemist karangan Paulo Coelho.
Saat bersama dengan domba-dombanya, dia berpikir bahwa si domba tak tahu kalau musim sudah berganti, dan ia makan dari sungai dan ladang yang berbeda, sebab dalam kepalanya domba, hanya rumput dan air untuk ia makan.

Prilaku domba tak jauh beda dengan masyarakat kita belakangan ini, yang tak tahu besarnya akibat dari deforestasi hutan, ini dikarenakan dalam kepalanya hanya menebang dan menyedot untung.

Seekor domba tak mampu berpikir untuk menyelamatkan sungai tempat ia minum agar tidak tercemar, rumput yang ia makan agar tidak menjadi musnah, jelas karena domba tak berakal. Sebagai makhluk yang berakal, manusia seharusnya bertindak sebaliknya, yaitu menyelamatkan lingkungan.

Hari ini, di atas perut bumi pertiwi, Laju deforestasi melampaui kecepatan virus corona menyebar, bahkan menyaingi kecepatan hoax berkembang. Akibatnya, hutan yang merupakan industri paling aktif memproduksi oksigen demi keberlangsungan makhluk hidup. Kini berubah menjadi hantu pemangsa, yang lahir dari lajunya deforestasi.

Faktor inilah yang membuat bumi dan lingkungan hidup berserta makhluk hidup yang ada di dalamnya perlahan kehilangan eksistensi dan hak-hak esensial dalam kerangka ekologi dan ekosistemnya.

Mengacu pada data yang dirilis Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) berdasarkan data dari Global Forest Resources Assessment (FRA), Indonesia menempati peringkat kedua dunia tertinggi kehilangan hutan setelah Brasil yang berada di urutan pertama.

Gundulnya hutan berdampak pada kualitas air sungai, mengurangi daya serap tanah, hingga air tanah sebagai cadangan air pun tak ada, inilah yang mengacu terjadinya kekeringan di musim kemarau dan banjir di musim hujan.

Sungguh memprihatinkan, belakangan ini, kebijakan pemereintah pun tak berpihak pada kondisi lingkungan yang dari hari ke hari mengalami degradasi.

Terlihat pada perencanaan pemerintah untuk memindahkan ibukota ke kalimantan. Dalam etika lingkungan, AMDAL adalah langkah awal sebelum memutuskan pembangunan di suatu wilayah. Terbalik yang dilakukan pemerintah, yaitu, mengambil keputusan baru melakukan AMDAL. Langkah yang diambil pemerintah terkesan ingin menyempurnakan kerusakan lingkungan.

Kekurangan stok pengetahuan pemerintah dalam menciptakan pembangunan ramah lingkungan berdampak pada keberlangsungan hidup flora dan fauna yang masi tersisa di bumi pertiwi ini.

Kerusakan hutan terus berjalan cepat,  pencemaran terdistribusi luas ke lingkungan masyarakat. Sungai, air tanah, maupun air laut ikut tercemar

tercemarnya air laut mengakibatkan sinar matahari tak menembus dasar laut untuk membantu tumbuh kembangnya terumbuh karang.

pada tahun 2018 lalu, Suharsono, pakar terumbuh karang dari pusat penelitian oseanografi ( P2O ) perna menjelaskan bahwa, kerusakan terumbu karang menjadi ancaman paling serius karena itu akan memengaruhi ekosistem laut secara keseluruhan. Dan, sudah pastinya akan berdampak pada perkembangan ikan-ikan yang merupakan sumber kehidupan manusia.

Kerusakan lingkungan yang menghawatirkan, memicu reaksi dunia dalam melestarikan lingkungan. Pada tahun 1992  diselenggarakanlah konfrensi Rio de Janaiori, Brazil. Konfrensi ini di hadiri 178 utusan negara, 115 kepala negara dan kepala pemerintahan, 1400 orang perwakilan Lembaga Swadaya Masyarakat.

Dari konfrensi Rio lahirlah beberapa prinsip yang menjadi acuan tindak negara-negara dalam hal mengelolah lingkungan. Salah satu prinsip adalah mengelolah sumberdaya lingkungan berdasarkan keadilan antar generasi.

Prinsip keadilan antar generasi adalah mengelolah lingkungan atau sumber daya alam oleh generasi sekarang tidak boleh mengorbankan kepentingan atau kebutuhan generasi yang akan datang atas sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Prinsip ini juga mengandung makna, bahwa generasi sekarang memiliki kewajiban untuk menggunakan sumberdaya alam secara hemat dan bijaksana serta melakukan konservasi sumber daya alam.

Prinsip yang telah dikeluarkan dari konfrensi Rio terlihat sunyi direlisasikan di atas perut bumi nusantara, hampir setiap tahun, kerusakan lingkungan Indonesia tak perna luput dari pemberitaan, begitu pula bencana alam yang merupakan akibat langsung dari kerusakan lingkungan tak perna sepi menjadi topik utama pemberitaan, namun kesadaran akan menyelamatkan lingkungan belum juga menjadi satu kewajiban bersama warga negara.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2018 lalu jumlah populasi Indonesia mencapai 265 juta jiwa. Kemudian, pada 2024, angkanya berpotensi meningkat hingga 282 juta dan sekitar 317 juta jiwa pada 2045.

Pertambahn jumlah penduduk ( bonus demografi ) artinya pertambahan kebutuhan. Pertambahan kebutuhan merupakan ancaman besar yang berkali lipat membunuh lingkungan, bila kesadaran lingkungan pun tak mengalami pertumbuhan dalam jiwa-jiwa masyarakat kita.

Penulis: Ikbal Tehuayo